Sinopsis buku berjudul Lontara Rindu karangan S.Gegge Mappangewa diterbitkan oleh Republika

I. Identitas Buku

  •  Judul Buku : Lontara Rindu
  •  Pengarang Buku : S.Gegge Mappangewa
  •  Penerbit : Republika
  •  Tahun Terbit : 2012
  •  Jenis Buku : Novel
  •  Ukuran Buku : 13,5 cm x 20,5 cm
  •  Ketebalan : viiii + 342 halaman;
  •  ISBN : 978-602-7595-01-9

II. Pembukaan

S. Gegge Mappangewa lahir di Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, 31 Desember 1974, ia merupakan lulusan sarjana Teknik Universitas Muslim Indonesia, Makassar. Novel terakhirny berjudul Rahasia Boneka Nasywa terbit tahun 2009. Sedangkan pada 2011 lalu ia meluncurkan buku Antologi Cerpen Anak oleh Guru berjudul Jurus-jurus Menyontek.
S. Gegge Mappangewa telah banyak meraih penghargaan, seperti Juara I Lomba Menulis Cerita Pendek Islami Tingkat Nasional Majalah Annida (2008), Juara Harapan Lomba Menulis Cerpen Anak oleh Guru Majalah Bobo (2011), dll.
Penulis banyak menggunakan bahasa daerah Sulawesi sehingga kurang dimengerti oleh pembacanya, kata-kata bahasa daerah tersebut susah dihafal, membuat pembaca harus mengulang bacaan sebelumnya dan hal tersebut membuat pembaca menjadi sulit berimajinasi.
Namun, dalam buku Lontara Rindu ini kisahnya terasa sangat nyata, alurnya mudah dimengerti, banyak hal-hal yang dapat diteladani dari novel tersebut. Memberikan pengetahuan tentang adat daerah dan agama. Kertas di novel tersebut tebal sehingga tidak mudah sobek ketika sedang membuka dan membacanya.
Dari Novel Lontara Rindu, karya S Gegge Mappangewa dapat disimpulkan bahwa cerita yang sarat dengan pesan dan hikmah di setiap kejadian menjadi karakteristik novel serta dapat menjadi pelajaran bagi pembaca. Begitu juga yang disuguhkan oleh Novel Lontara Rindu, pada ceritanya banyak sekali hal hal yang dapat diteladani.


III. Sinopsis
Novel Lontera Rindu bertutur tentang hubungan manusia di dalam keluarga dan lingkungannya yang komplek, terutama karena ada latar belakang adat dan agama yang berbeda. Alkisah ada dua saudara kembar bernama Vino dan Vito. Mereka berdua terpisah sejak usia mereka masih sangat dini. Kedua orang tuanya terpaksa berpisah karena perbedaan keyakinan. Ibu mereka penganut agama Islam, sedangkan ayahnya penganut keyakinan Tolotang. Kakek Vino dan Vito tersebut menolak kehadiran ayah mereka dan terpaksa harus pergi. Vito tinggal bersama ibunya sedangkan Vino dibawa ayahnya.
Ayah vito pergi ketika vito masih kecil. Beda keyakinan membuat kakeknya tidak bisa menerima ayahnya, sehingga ibunya dulu harus mengorbankan kehormatan keluarga, kabur dari rumah demi ayah vito itu. Vito adalah anak yang terluka dan ketika memasuki usia SMP ia kerap bertanya mengapa ayah meninggalkannya ?
Vito dibesarkan ibunya bersama kakeknya di desa. Seperti anak-anak lainnya di desanya, Vito sekolah di SMP dekat dengan rumahnya. Pak Amin, salah satu guru di sekolahnya mempunyai kedekatan dengan murid-muridnya. Selain Pak Amin, ada juga guru lain yakni Bu Maulindah, seorang yang berpikiran maju, digambarkan sebagai sosok guru yang tidak berwibawa di hadapan murid-muridnya. Beliau sering dijahili oleh murid-murid, sampai-sampai buku hariannya dicuri baca oleh murid-murid kelasnya. Padahal, guru merupakan sosok penting di masyarakat Bugis. Tetapi kemudian, hal itu tampak berkesan ketika Bu Maulindah memutuskan untuk melanjutkan studinya ke Jepang, membangkitkan gairah anak-anak untuk bercita-cita, setinggi cita-cita orang-orang kebanggaan masyarakat adat Bugis.
Inilah kisah pencarian sekaligus kehangatan keluarga siswa SMP itu di masa belianya di Cenrana, Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan, di masa kemarau panjang
mendera. Ditengah upaya diam-diamnya mencari ayah. Vito dan teman-temannya mendapatkan ajaran moral islami dari Pak Guru Amin yang sering bercerita tentang kisah-kisah masa lampau yang tercatat di lontara. Namun di kemudian hari, Pak Amin harus menerima kenyataan pahit ketika warga menuduhnya telah menyebarkan fanatisme agama kepada siswanya. Sehingga dia dan kesembilan siswanya harus dipisah.
Suatu masa, ketika Pak Amin dan murid-muridnya harus berpisah di saat itu pula rindu yang membuncah membuat Vito harus mencari ayahnya di Perrinyameng, Amparita, belasan kilometer dari kampungnya di daerah pergunungan. Rindu seorang anak (Vito) pada ayahnya dan saudara lelaki kembarannya. Walau pusaran utamanya ada pada tokoh Vito, tapi pada novel ini juga mengupas kehidupan masa lalu orang tua vito bahkan leluhur desa yang Vito diami. Desa Sidenreng. Konflik yang hadir seputar rindu anak, kisah cinta yang terpisah karena beda keyakinan seperti yang dialami ayah dan ibunya dan adat, serta tekad sekelompok anak desa yang memiliki mimpi berkat guru yang tulus mendidik. Alurnya pun begitu lincah, maju mundur tanpa cela. Diksi yang digunakan pun begitu indah. Sayangnya ending novel ini membuat penasaran.
Berhasilkah Vito menemukan Vino dan ayahnya ? Bagimanakah hubungan kedua orang tuanya ? masihkah ayah Vito menganut kepercayaan leluhurnya ?
Kisah vito dan kawan-kawan ini banyak menghadirkan tangis dan tawa dari awal hingga akhir cerita. Sebuah roamantika hidup penuh makna dan inspirasi bagi kita pembacanya.


Yuukkkk.. buruan baca novel nya dengan datang ke Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Sumatera Barat di Jalan Diponegoro, No.4, Belakang Tangsi, Kec. Padang Barat, Kota Padang, Sumatera Barat. Novel ini terdapat pada rak di lantai I dengan nomor klasifikasi 899.221-GEG-1 yaa.

Sharing :    
  About

Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat adalah sebuah instansi Pembina Perpustakaan dan Kearsipan di daerah ini.

  Statistik Pengunjung
4 Online
9 Visitor Today
242 Visitor Yesterday
238324 All Visitor
903340 Total Hits
35.175.201.191 Your IP address

  Contact Us
  Alamat :

Jalan Diponegoro No.4 Padang (Sekretariat dan Perpustakaan Provinsi) dan Jalan Pramuka V No. 2 Khatib Sulaiman Padang (Kearsipan)

Tel : (0751) 7051348
Mail : dapprovsumbar@gmail.com
Business Hours : 7:30 - 15:00