GERAKAN KEMBALI KE PERPUSTAKAAN HARUS TERUS DIGALAKKAN Oleh: Nadiati Husna dari Komunitas : Sanggar Bahasa dan Sastra “Klub Sahara” Kota Pariaman Ig. naddhsn_

Kita mungkin akan sepakat bahwa membaca adalah pelajaran pertama yang diajarkan kepada seorang anak ketika pertama kali menduduki bangku sekolah. Tahu mengapa? Karena dengan membaca lah salah satu cara kita agar bisa membuka ilmu pengetahuan yang baru. Dengan membaca, kita yang sebelumnya tidak tahu menjadi tahu. Artinya, membaca merupakan kebutuhan pokok manusia untuk menjalani proses kehidupannya. Kegiatan membaca ini sangat perlu dilakukan saat kita pertama kali berada di bangku sekolah sebagai pembuka atau bekal awal manusia mempelajari ilmu pengetahuan lainnya.

Kegiatan membaca merupakan salah satu kegiatan literasi. Untuk mencapai tahap pemahaman yang direalisasikan melalui tindakan, literasi itu perlu dimulai dengan membaca. Perlu kita pahami bahwa literasi bukan hanya sebatas baca-tulis saja, tetapi juga menyimpulkan, merangkum, menyampaikan, hingga membangun sebuah pemahaman juga termasuk ke dalam proses literasi. Seseorang dengan kemampuan literasinya yang bagus bisa dikatakan adalah mereka yang menyukai kegiatan membaca. Ia paham bahwa untuk menciptakan literasi yang unggul, perlu dibangun dengan cara menumbuhkan kegemaran membaca sejak dini.

Pada zaman yang semakin berkembang saat sekarang, semua sektor pendidikan, teknologi, ekonomi, serta kehidupan manusia juga mengalami perubahan. Salah satunya adalah literasi. Literasi yang kita kenal sekarang bukan hanya ada dalam kalangan sastrawan atau pegiat literasi saja, tetapi sudah menyentuh ke ranah ekonomi, politik, dsb. hal ini menurut saya disebabkan karena adanya kesadaran bahwa dalam aspek lain pun (selain dunia sastra dan kepenulisan) literasi ternyata sangat diperlukan. Berangkat dari hal yang demikian, orang-orang pada saat sekarang berlomba untuk mengembangkan bagaimana caranya membangun minat dan ketertarikan masyarakat yang dalam hal ini adalah literasi.

Masyarakat yang sadar akan pentingnya meningkatkan kemampuan literasi adalah mereka yang paham manfaat dan dampak dari apa yang sedang mereka usahakan tersebut. Melalui literasi kita bisa menciptakan masyarakat yang aktif berkolaborasi, peka terhadap lingkungan, kritis, inovatif, dsb. Literasi ini juga merupakan salah satu bentuk upaya kita membangun dan mencetak generasi muda yang peduli dan cerdas dibidangnya. Usaha ini tidak lain bertujuan untuk membangun suatu tempat atau daerah agar lebih berkembang melalui peningkatan kualitas SDM-nya, yaitu anak muda.

Mengapa harus anak muda? Karena setiap pemimpin ada masanya dan setiap masa ada pemimpinnya. Kehidupan yang terus berjalan mendorong umat manusia untuk terus belajar dan meneruskan masa kepemimpinan kepada generasi-generasi selanjutnya. Generasi muda lah yang pastinya harus diajarkan dan diberikan pengalaman untuk merasakan bagaimana menjadi pemimpin, bekerja sama, memberi arahan, dsb. Jadi, mendidik generasi muda adalah salah satu upaya untuk mempersiapkan masa yang lebih bagus lagi ke depannya.

Membangun kesadaran akan literasi sudah banyak dilakukan oleh berbagai pihak dan instansi. Salah satunya adalah pemerintah Provinsi Sumatera Barat. Saya sadar bahwa pemerintah provinsi sudah mulai peka akan pentingnya literasi untuk kemajun daerah, hanya saja tentu harus adanya kerja sama yang baik pula dalam menyambut niat yang sangat baik ini. Usaha untuk membangun Sumatera Barat menjadi provinsi yang peka terhadap literasi menurut saya juga sebagai upaya pemerintah membangun sebuah daerah. Dalam hal ini sasarannya adalah kita sebagai generasi muda penerus estafet kepemimpinan dan peradaban.

Namun, sepertinya usaha pemerintah kali ini cukup berat untuk menumbuhkan kecintaan tersebut. Literasi sebagian besar masih dipandang sebagai bentuk kegiatan baca-tulis saja. Anak muda yang ketika kita tanyakan perihal literasi maka yang ditahu hanya seputar membaca, menulis, sastra, atau perpustakaan saja. Pengetahuan literasi di tengah masyarakat mulai menyempit dan dikerucutkan oleh stigma literasi tersebut.

Bicara soal masyarakat, kita juga bicara soal anak muda. Sebagai pewaris kepemimpinan, kita (anak muda) perlu dipersiapkan dan mempersiapkan diri dengan membawa banyak bekal dan ilmu pengetahuan. Ada banyak usaha pemerintah untuk meningkatkan literasi anak muda dengan menciptakan gagasan-gagasan atau inovasi baru melalui kecanggihan teknologi, ataupun mengikuti moderenisasi yang sering melekat pada anak muda. Akan tetapi, bisa kita saksikan bersama bahwa kenyataannya masih jauh berbeda.

Kegemaran membaca saja di kalangan anak muda masih rendah. Saya pikir, kecanggihan teknologi dan moderenisasi yang berkembang sekarang sangat sulit untuk menggantikan upaya meningkatkan literasi seseorang. Adakalanya peran kecanggihan teknologi justru menciutkan kemampuan literasi kita, bukan seperti yang kita harapkan agar semakin berkembang pesat. Kegiatan membaca pada zaman dahulu dikenal sebagai kegiatan membaca dengan menghadirkan adanya bahan buku bacaan langsung dalam bentuk buku atau kertas, bukan gadget canggih seperti sekarang. Akan terasa berbeda membaca sebuah bacaan secara langsung dengan membaca bahan bacaan dengan bantuan alat/teknologi.

Saya pikir, literasi sebenarnya adalah menghadirkan langsung sebuah proses tanpa perantara, karena dalam proses itulah kita dibangun, ditempa, diberikan pelajaran, pengalaman, serta pengajaran dibanding literasi yang serba instan zaman sekarang. Orang-orang hanya akan semakin malas ke perpustakaan jikalau semua buku yang ingin ia cari dan dapatkan sudah ada hanya dalam sebuah genggaman tangan. Tanpa usaha, tanpa pengalaman, dan tanpa sensasi yang jauh berbeda dengan sekadar mengunjungi perpustakaan.

Selain itu, generasi muda akan semakin tidak paham rasanya membaca dengan mengunjungi langsung perpustakaan. Mereka tidak tahu bahwa ada banyak usaha serta upaya pemerintah meningkatkan literasi masyarakat dengan memberdayakan perpustakaan karena jarangnya anak muda yang mengunjungi perpustakaan. Padahal, kegiatan tersebut memang dikhususkan untuk memberikan wadah kepada masyarakat. Gerakan untuk membaca, menulis, dan segala hal yang berkaitan dengan literasi jika dilakukan dan dimaksimalkan di perpustakaan sebagai salah satu tempat mencari ilmu atau pengalaman merupakan salah satu solusi yang bisa saya berikan untuk meningkatkan kembali semangat literasi. Mungkin tidak hanya anak muda, tetapi masyarakat umum sekitarnya akan merasakan dampak yang serupa.

Kita mungkin tidak bisa menyepakati sepenuhnya bahwa tanpa bantuan perkembangan dan kemajuan teknologi zaman sekarang literasi akan berkembang. Hanya saja, biarkan lah teknologi menempati titik ‘membantu’ bukan ‘menggantikan’. Biarkan teknologi sebagai sarana untuk ‘mempermudah’ bukan ‘menghilangkan’. Serta baiknya bertujuan untuk ‘memajukan literasi’ bukan sekadar ‘demi terciptanya perkembangan teknologi’.

Terakhir, tidak selamanya perubahan ke arah yang modern itu baik. Kegiatan literasi adalah sebuah proses alamiah yang muncul dari kebiasaan yang dibangun ketika berinteraksi dengan manusia. Ada perasaan dan impresi yang ditimbulkan sehingga menumbuhkan kecintaan dan kegemaran setelahnya dan itu tidak bisa digantikan oleh teknologi manapun. Pada akhirnya, perpustakaan lah tempat berlabuh akan semua hal itu.

Sharing :    
  About

Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat adalah sebuah instansi Pembina Perpustakaan dan Kearsipan di daerah ini.

  Statistik Pengunjung
1 Online
5 Visitor Today
242 Visitor Yesterday
238320 All Visitor
903311 Total Hits
35.175.201.191 Your IP address

  Contact Us
  Alamat :

Jalan Diponegoro No.4 Padang (Sekretariat dan Perpustakaan Provinsi) dan Jalan Pramuka V No. 2 Khatib Sulaiman Padang (Kearsipan)

Tel : (0751) 7051348
Mail : dapprovsumbar@gmail.com
Business Hours : 7:30 - 15:00